Tampilkan postingan dengan label HIV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIV. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2024

4 Gejala Kanker Sarkoma, Jangan Remehkan Benjolan

Hidupsehat - Sarkoma adalah kanker yang dimulai di jaringan ikat. Jaringan ikat terdiri dari sel-sel dan serat yang menghubungkan dan mendukung bagian tubuh lainnya. Terkadang sel-sel ini menjadi rusak dan mulai membelah dan berkembang biak. Sel kanker ini dapat membentuk tumor.Kita memiliki jaringan ikat di seluruh tubuh, sehingga sarkoma bisa berkembang di mana saja. Sarkoma paling sering muncul sebagai benjolan di lengan dan kaki. - SahabatQQ

SahabatQQ: Agen DominoQQ Agen Domino99 dan Poker Online Aman dan Terpercaya

Ada tiga jenis utama sarkoma: Sarkoma jaringan lunak tumbuh di lemak, otot, saraf, pembuluh darah, dan kulit dalam. Ini adalah tipe yang paling umum, menyumbang sekitar 80 persen dari semua sarkoma. Sarkoma tulang tumbuh di tulang dan tulang rawan. Sarkoma jinak tumbuh di jaringan ikat, biasanya di lengan, kaki, persendian, atau perut. Angka kasusnya sangat jarang. Secara teknis tipe ini bukan kanker, tetapi sering ditangani oleh dokter kanker. Terkadang pertumbuhannya lambat dan tidak menimbulkan masalah, tetapi kadang pertumbuhannya cepat dan menimbulkan rasa sakit. Pertumbuhan ini bisa menjadi agresif dan sering muncul kembali, tetapi tidak menyebar. 

Deteksi dini adalah kunci untuk mendiagnosis dan mengobati sarkoma. Ada empat kualitas yang dapat membantu menentukan apakah benjolan baru atau yang sudah ada berpotensi menjadi sarkoma.


1. Lokasi

Mayoritas sarkoma berkembang di lengan dan kaki, khususnya di ujung atas ekstremitas (anggota badan). Sarkoma juga bisa berkembang di bokong, dinding dada, panggul, serta area kepala dan leher, dilansir Penn Medicine. Sarkoma bisa tumbuh menjadi massa yang besar dan dalam.Di sisi lain, sarkoma cenderung tidak berkembang di jari tangan dan kaki. Namun, area-area ini tetap tidak boleh diabaikan.Jari tangan dan kaki adalah tempat umum munculnya kista atau benjolan jaringan lunak jinak (bukan kanker) lainnya. Salah satu massa jaringan lunak yang paling umum di tangan dan kaki adalah lipoma superfisial atau intramuskular, yaitu benjolan lemak jinak yang tumbuh lambat. Biasanya, lipoma terasa pucat, tidak empuk, dan bisa bergerak jika diberi sedikit tekanan. 

         

2. Tingkat pertumbuhan

Jika benjolan terlihat membesar, terutama dalam waktu yang relatif cepat, sebaiknya benjolan tersebut dievaluasi oleh dokter, apalagi jika benjolannya sudah berkembang besar menjadi seukuran bola golf.Di sisi lain, jika ukurannya tetap sama selama beberapa minggu hingga bulan, kemungkinan besar itu bukan sarkoma.Evaluasi medis dapat menentukan sifatnya. Tergantung pada ukuran dan lokasi massa, MRI atau USG akan digunakan.


3. Nyeri

Sebagian besar sarkoma jaringan lunak tidak menimbulkan rasa sakit, yang sayangnya membuat orang salah mengira bahwa mereka tidak perlu menemui dokter.Jika sarkoma terletak jauh di dalam, tumbuh dengan cepat, dan terletak di dekat area sensitif seperti saraf skiatik (saraf terbesar pada manusia, berasal dari punggung bawah dan berjalan ke posterior melalui ekstremitas bawah hingga ke tumit kaki), ini mungkin menimbulkan rasa sakit.Sarkoma yang dimulai di tulang juga akan menimbulkan rasa sakit dan gejala lainnya.


4. Kepadatan benjolan

Kepadatan benjolan juga bisa menjadi indikasi bahwa benjolan lebih dari sekadar timbunan lemak.Kalau benjolan yang ada lembut dan mudah digerakkan, ini mungkin tidak terlalu mengkhawatirkan jika dilihat dari sudut pandang sarkoma. Akan tetapi, sebaiknya awasi benjolan tersebut dan temui dokter jika ada perubahan, muncul gejala lain yang tidak biasa, atau sesimpel jika kamu khawatir. - DominoQQ

Selasa, 27 September 2022

Mengenal Terapi Sel Punca, Metode Penanganan HIV

 


Mengenal Terapi Sel Punca, Metode Penanganan HIV

Mungkin kamu pernah mendengar mengenai terapi sel punca. Ini merupakan sebuah terapi yang biasanya digunakan sebagai metode pengobatan penyakit degeneratif dan sel kanker. 

Melansir Kebijakan Kesehatan Indonesia (KKI), di Indonesia sendiri baru terdapat dua rumah sakit yang menyediakan layanan ini, yaitu Rumah Sakit dr Soetomo dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Baru-baru ini, metode terapi ini digunakan untuk pengobatan HIV. Sebagaimana diketahui penderita HIV/AIDS membutuhkan pengobatan serta pengawasan seumur hidupnya. Terapi yang biasanya diterapkan pada pasien adalah terapi antiretroviral (ARV).

Namun, baru-baru terapi sel punca disebut sebagai terobosan baru yang memberikan pemulihan lebih baik. Akan tetapi, pengobatan ini masih membutuhkan banyak penelitian lagi. Berikut penjelasannya dalam artikel di bawah ini. DominoQQ

Apa itu terapi sel punca?

Sebelum kamu mengetahui terapi ini lebih jauh, terlebih dahulu pahami dulu mengenai sel punca itu sendiri. mengenai Sel punca atau stem cell adalah sel yang belum memiliki peran atau fungsi khusus, sehingga sel punca ini dapat menyesuaikan, mengubah, serta memperbanyak diri dengan cara membelah.

Hal inilah yang membuat jenis sel ini kerap digunakan pengobatan medis untuk bahan transplantasi. Prosedurnya adalah dengan memindahkan stem cell ini ke organ tubuh tertentu dan menjadi sel khusus dengan fungsi yang lebih spesifik. Terapi ini pun ternyata bisa menjadi alternatif penanganan HIV (Human Immunodeficiency Virus), lho!

HIV  adalah sebuah virus yang merusak sel-sel sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, tubuhmu tidak mampu untuk melawan infeksi atau penyakit yang datang. Infeksi ini memicu gejala AIDS, seperti kanker, infeksi patogen, dan bisa berujung pada kematian.

Baru-baru ini terapi sel punca digunakan sebagai pengobatan HIV. Dilansir Medical News Today, seorang perempuan positif HIV melakukan terapi sel punca yang dinyatakan sembuh dan terbebas dari virus tersebut selama 14 bulan terakhir.

Bagaimana cara kerja terapi ini?

Adapun terapi punca untuk HIV ini adalah jenis sel punca rekayasa genetika. Sel punca diambil dari rekayasa genetika sel induk progenitor anti-HIV (HSPC) dalam tubuh pasien. Tujuannya tidak lain agar tubuh pasien lebih kebal terhadap infeksi HIV.

Dari hasil ini, dapat dilihat bahwa sel punca HSPC dapat mengganggu perkembangan HIV dan menghambat virus lain dalam tubuh masuk. Selain itu, sel ini menjadi pelindung sel darah putih (leukosit) yang sangat penting bagi tubuh. 

Sel HSPC ini akan terus membelah dan menyerang virus HIV. Oleh sebab itu, terapi sel punca sangat memiliki potensi besar untuk mengendalikan produksi HIV dalam tubuh.

Kasus terapi sel punca sembuhkan HIV

Melansir World Health Organization, The International Maternal Pediatric Adolescent AIDS Clinical Trial Network (IMPAACT) P1107 melaporkan kasus pertama perempuan yang positif HIV sembuh setelah menjalani transplantasi sel terapi punca.

Adapun transplantasi yang dilakukan adalah dengan sel punca yang diambil berasal dari sel induk darah yang digunakan untuk pengobatan pasien penderita leukemia myelogenous akut. Sel punca ini kemudian terus bermutasi, sehingga pasien menjadi kebal infeksi HIV.

Adapun sel transplantasi ini berasal dari dua sumber, yaitu:

Sel induk kerabat atau sumsum tulang yang biasanya digunakan untuk pengobatan kanker dan komplikasi infeksi HIV.

Sel punca yang berasal dari tali pusar berasal dari ibu yang baru saja bersalin. Hal ini digunakan untuk pemulihan darah jangka panjang.

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2015 dengan seorang perempuan yang berasal dari New York. Sebelumnya, perempuan tersebut melakukan terapi ARV (antiretroviral) selama 37 bulan. Kemudian, setelah melakukan terapi punca, selama 14 bulan tidak terdeteksi HIV. 

Tidak bisa diterapkan pada semua penderita HIV

Menurut Direktur Medis Terrence Higgins Trust , Dr Brady, terapi sel punca atau transplantasi sel induk ini sangat berisiko. Walau begitu, terapi ini merupakan metode penanganan yang cukup efektif untuk jutaan penderita HIV di seluruh dunia. 

Meski perempuan dalam kasus terapi sel punca tidak memiliki gejala HIV lagi, tetapi hal ini sejatinya untuk penundaan jangka panjang, bukan sembuh total. Para peneliti juga mencatat bahwa terapi punca hanya dilakukan bagi pasien HIV yang sedang mengalami kanker dan membutuhkan terapi ini.

Apa manfaat lain dari sel punca?

Dilansir Mayoclinic, para peneliti menjelaskan sel punca induk akan membelah diri menjadi sel-sel lain atau disebut dengan sel anak. Adapun sel anak ini terbagi lagi menjadi dua, yaitu sel punca baru dan sel dewasa.

Sel punca baru akan terus membelah diri dan tidak memiliki fungsi khusus. Sedangkan, sel dewasa yang ditempatkan pada organ tertentu akan memiliki fungsi spesifik, yakni mulai dari sel darah, sel tulang, hingga sel otak.

Adapun manfaat dari pengembangan sel punca ini antara lain:

Digunakan dalam ilmu kedokteran untuk memahami bagaimana penyakit terjadi dan kondisi berkembangkan.

Menghasilkan sel-sel yang lebih sehat guna menggantikan sel lain yang terkena penyakit melalui terapi sel punca.

Meregenerasi serta memperbaiki jaringan pada tubuh manusia yang rusak ataupun terkena penyakit.

Sel punca memiliki potensi yang lebih besar untuk menumbuhkan jaringan baru. Hal ini yang menyebabkan sel ini sering digunakan dalam pengobatan regeneratif dan transplantasi. Adapun orang-orang yang mengikuti terapi sel punca biasanya memiliki riwayat penyakit ini:

Cedera tulang belakang

Penyakit parkinson

Diabetes tipe 1

Penyakit jantung

Alzheimer

Luka bakar

Kanker

Osteoartritis

Amyotrophic lateral sclerosis.

Itulah tadi beberapa informasi mengenai terapi sel punca. Meski percobaan terapi ini telah berhasil dilakukan pada penderita HIV, metode ini masih diperlukan beberapa penelitian lebih lanjut dengan harapan dapat menjadi alternatif pengobatan pasien HIV di masa mendatang.

Featured Post

8 Penyebab Emosi Tidak Stabil yang Penting untuk Diketahui

Hidupsehat  - Penyebab emosi tidak stabil bisa sangat beragam, mulai dari stres sehari-hari hingga masalah kesehatan mental yang lebih seriu...